| UTAMA | | ENGLISH | | BERITA FOTO | | ULASAN | | DIALOG | | REDAKSI | | RISET - POLLING |

Jumat, 25 Januari 2008

Setiawan Djody: Indonesia Harus Antisipasi Ancaman Resesi Global

Melonjaknya harga minyak hingga mencapai 90 dolar US per barrel, membuat hampir seluruh negara menyiapkan diri atas resesi global yang terjadi, termasuk Indonesia. Salah satu pengusaha terkenal Indonesia Setiawan Djody memberikan pendapatnya seputar resesi global yang terjadi saat ini dan dampaknya untuk Indonesia. Berikut hasil wawancara reporter The Indonesia Now Dewi Adhitya dengan Setiawan Djody saat dihubungi Jumat (25/1).

Bagaimana Anda melihat gambaran kondisi perekonomian Indonesia secara global?
Kita harus hati-hati terhadap side effect resesi di amerika, khususnya untuk Indonesia, karena side effect ini lebih terasa daripada negara-negara asia lainnya. Ya seperti China, sebenarnya China mah nggak ada apa-apa, justru mereka overhead-nya berkurang dengan adanya ini (resesi global-red), berbeda dengan Indonesia.

Jadi apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi resesi global?
Kita harus benar-benar menyiapkan diri secepatnya untuk resesi global yang sedang terjadi. Namun jangan pesimis juga. Yang terpenting dibenahi domestic ekonomi. Seperti konsolidasi corporate starter, culture. Ya dicoba saja memperkokoh GDP (Gross Domestic Product-red). Yang terpenting bagi Indonesia adalah bagaimana meningkatkan produksi kita untuk gas misalnya, mestinya gas kita itu equivalent mencapai 2,5 juta barrel oil. Hitung saja secara radikal semua gas diperuntukkan ke dalam negeri dulu, nah baru sisanya di ekspor.

Menurut anda, bagaimana peran pemerintah untuk mencapai hal ini?
Jadi dibutuhkan seorang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang bisa memanfaatkan saat-saat terakhir ini di mana sebelum pemilu mulai, harus benar-benar membuktikan ke rakyat kalau beliau adalah pemimpin ekonomi bukan pemimpin politik, kalau pemimpin politik setiap orang sekarang bisa kok, mulai dari artis, pemain sinetron, dan pemimpin parpol sendiri . Beliau harus jadi presiden yang merakyat .

Kalau anda sendiri sebagai pengusaha, mengahadapi dampak resesi global, terutama di Amerika, implikasi apa yang anda rasakan?
Saya sebagai orang Indonesia seperti yang saya katakan tadi, tapi karena bisnis saya banyak di China dan rusia, yah nggak ada implikasi apa-apa, lagipula spesialisasi saya hanya di oilum gas. Kalau di Rusia efeknya nggak ada apa-apa, dia punya produksi hampir sama dengan Arab Saudi, China malah mengurangi overhead-nya 11 persen lebih, that’s good for China.

Lalu bagaimana dengan amerika?
Kalau Amerika sendiri, wakil perdana menterinya sekarang ngawur juga, masa dia nyalahin uang Arab, uang Rusia, dan uang China, uang itu kan masih dikontrol sama mereka. Harusnya Amerika Jangan menyalahkan negara lain mereka sendiri nggak becus, di abad 20 Amerika sih boleh berbangga, yang saya lihat sekarang justru China dan India lebih baik, dapat energi dari Rusia, jadi Amerika harus merubah pola pikir ekonomi dan politiknya.

Selengkapnya...

Rabu, 16 Januari 2008

Aviliani: Minyak Tanah Langka Karena Dikonversikan ke Gas

Kelangkaan minyak tanah (minah-red) masih terdapat di beberapa daerah di Indonesia, hal itu terjadi karena pemerintah melakukan pengalihan konversi minyak tanah ke gas pada masyarakat secara tidak langsung. Salah satu Pengamat Ekonomi Aviliani memberikan pandangannya mengenai hal ini kepada reporter The Indonesia Now Nurseffi saat ditemui di acara Outlook Ekonomi 2008 di Gran Melia, Jakarta, Rabu (16/1)

Menurut anda faktor apa yang menyebabkan kelangkaan minyak tanah?
Kelangkaan minyak tanah terjadi pada saat pemerintah melakukan pengalihan konversi minyak tanah ke gas pada masyarakat secara tidak langsung, padahal kemungkinan pemerintah sudah mengurangi minyak tanah di pasaran untuk melakukan pengalihan, jadi kalau tidak pendampingan di daerah akan sangat sulit.

Selain itu, apa ada faktor lainnya?
Faktor kedua adanya disparitas harga sangat tinggi, jadi tidak dialihkan ke masyarakat dan tidak ada operasi pasar, yang harus dilakukan untuk barang subsidi minyak tanah harus ada pengawasan, dan pemerintah daerah dilibatkan dalam pengawasan penyaluran barang-barang subsidi

Apakah ada kemungkinan terjadi penyelewengan?
Saya yakin yang namanya barang subsidi dipegang swasta akan ada penyelewengan. Misalnya Swasta jual ke perusaahan Rp6500 sedangkan ke masyarakat Rp 2500,-, jadi mereka lebih memilih jual ke perusahaan karena untungnya Rp 4000 per liter.Sebenarnya pengurangan yang dilakukan pemerintah juga dilakukan secara bertahap. Cuma masalahnya tidak ada bisa memperhitungkan berapa tingkat penyelewengan swasta.

Apakah kelangkaan minyak tanah ini akan meningkatkan inflasi?
Kelangkaan tentu saja akan menyebabkan kenaikan harga dan kenaikan harga akan berimbas pada inflasi.

Berapa persen kenaikannya?
Angka kenaikan Inflasi akibat minyak tanah tidak terlalu signifikan. Tapi kalau yang keinaikannya signifikan itu, beras dan kebutuhan pokok lainnya. Sebenarnya secara otomatis saat ini inflasi akan terjadi, bukan karena minyak tanah, melainkan juga disebabkan kenaikan harga tempe tahu, dan minyak goreng yang belum turun.

Kira-kira sampai kapan hal ini terjadi?
Dalam waktu dekat masyarakat masih akan menikmati kenaikan harga secara umum dan belum tahu sampai kapan. Belum lagi perusahaan-perusahaan, tahun lalu kan harga BBM dinaikkan dan belum turun, jadi mereka akan menaikkan harga barang sesuai kenaikan BBM.

Jadi apa yang harus dilakukan?
Kalau minyak tanah kan harus dilakukan dengan pengawasan, tapi kalau barang-barang lain pemerintah tidak bisa menyeimbangkan selama pemerintah tidak berbuat sesuatu. Untuk kenaikan harga tahu dan tempe karena importir kedelai sifatnya oligopoly sehingga mereka bisa menaikan harga seenaknya. Misalnya, harga kedelai di amerika naik 10 persen, masa di Indonesia jadi naik 110 persen, itu tidak wajar.

Lalu bagaimana dengan peran Bulog?
Bulog harus dikembalikan fungsinya seperti dulu, Bulog dijadikan penyeimbang harga-harga untuk barang-barang yang dianggap urgent oleh masyarakat, zaman Soeharto Bulog itu sudah benar, tapi ada penyelewengan yang dilakukan pejabat Bulog. Kalau Bulog transparan, maka bulog tidak akan memainkan harga.

Selengkapnya...

Kamis, 10 Januari 2008


Hasyim Muzadi:
Politik Indonesia Masih Ikuti Alur Liberalisme


Memasuki Tahun Baru Hijriyah 1429, arah perpolitikan di Indonesia kembali jadi pertanyaan. Disatu sisi politik bisa menjadi alat untuk memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dilain sisi politik juga jadi pembenar suatu kesalahan. Lantas, bagaimana perspektif pimpinan Nadlatul Ulama, ormas Islam terbesar di Indonesia tentang isu ini. Berikut petikan wawancara reporter The Indonesia Now Dewi Adhitya dengan KH. Hazyim Muzadi, Ketua Umum PN BU di kantor PB NU Kramat Raya, Jumat (10/1).
Menurut anda, bagaimana perkembangan politik Indonesia saat ini dalam perspektif Islam?
Perkembangan Islam itu tidak mengikuti alur perspektif Islam, tapi masih mengikuti alur pemikiran demokrasi liberal, jadi belum bisa diduga. Masalahnya yang paling pokok adalah bagaimana para politisi yang berangkat dari umat Islam sadar pada tugas-tugas yang seharusnya dilakukan untuk memberikan proteksi politik terhadap pengembangan kultur Islam.
Konkritnya itu seperti apa?
Ya misalnya begini janganlah mengambil kebijakan-kebijakan yang langsung atau tidak langsung merugikan Islam dan umat Islam. Misalnya bidang ekonomi, sekarang ada undang-undang penanaman modal asing. Lah kalau ekonomi Indonesia diberikan kepada asing semua, ya rakyat ini kan penonton di rumahnya sendiri, dan penonton ini kan 90 persen orang Islam, jadi seperti itu contohnya. Maksud saya ada kebijaksanaan yang langsung atau tidak langsung bisa merugikan atau menguntungkan umat islam, ya kesadaran ini yang perlu disadari terus menerus oleh para politisi yang berangkat dari komunikatif.
Secara umumnya apa yang akan diperjuangkan ke depannya untuk umat Islam sendiri?
Ya saya kira itu sajalah kuncinya. Pelaku politik itu kan para politisi, para birokrat, dan para negarawan. Mereka saja yang didorong agar kondisi politik itu sebaik-baiknya bisa digunakan dalam pengembangan ajaran agama, itu saja.
Di tahun baru hijriyah ini bagaimana menjaga hubungan dengan muhammadiyah?
Ya tambah baik, tambah bagus, sekarang kan banyak orang Muhammadiyah jadi politisi, NU juga banyak politisinya, kalau dibicarakan prospek politik. Sepanjang politik itu sadar kalau dia jadi politisi karena apa, itu udah bagus. Nah sekarang ini gak pake sadar, dan di sini perjuangan terus menerus bagaimana wakil rakyat itu bisa aspirasi, bukan hanya kreatif untuk dirinya. (Dhita)

Selengkapnya...