Setiawan Djody: Indonesia Harus Antisipasi Ancaman Resesi Global
Melonjaknya harga minyak hingga mencapai 90 dolar US per barrel, membuat hampir seluruh negara menyiapkan diri atas resesi global yang terjadi, termasuk Indonesia. Salah satu pengusaha terkenal Indonesia Setiawan Djody memberikan pendapatnya seputar resesi global yang terjadi saat ini dan dampaknya untuk Indonesia. Berikut hasil wawancara reporter The Indonesia Now Dewi Adhitya dengan Setiawan Djody saat dihubungi Jumat (25/1). Bagaimana Anda melihat gambaran kondisi perekonomian Indonesia secara global?
Kita harus hati-hati terhadap side effect resesi di amerika, khususnya untuk Indonesia, karena side effect ini lebih terasa daripada negara-negara asia lainnya. Ya seperti China, sebenarnya China mah nggak ada apa-apa, justru mereka overhead-nya berkurang dengan adanya ini (resesi global-red), berbeda dengan Indonesia.
Jadi apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi resesi global?
Kita harus benar-benar menyiapkan diri secepatnya untuk resesi global yang sedang terjadi. Namun jangan pesimis juga. Yang terpenting dibenahi domestic ekonomi. Seperti konsolidasi corporate starter, culture. Ya dicoba saja memperkokoh GDP (Gross Domestic Product-red). Yang terpenting bagi Indonesia adalah bagaimana meningkatkan produksi kita untuk gas misalnya, mestinya gas kita itu equivalent mencapai 2,5 juta barrel oil. Hitung saja secara radikal semua gas diperuntukkan ke dalam negeri dulu, nah baru sisanya di ekspor.
Menurut anda, bagaimana peran pemerintah untuk mencapai hal ini?
Jadi dibutuhkan seorang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang bisa memanfaatkan saat-saat terakhir ini di mana sebelum pemilu mulai, harus benar-benar membuktikan ke rakyat kalau beliau adalah pemimpin ekonomi bukan pemimpin politik, kalau pemimpin politik setiap orang sekarang bisa kok, mulai dari artis, pemain sinetron, dan pemimpin parpol sendiri . Beliau harus jadi presiden yang merakyat .
Kalau anda sendiri sebagai pengusaha, mengahadapi dampak resesi global, terutama di Amerika, implikasi apa yang anda rasakan?
Saya sebagai orang Indonesia seperti yang saya katakan tadi, tapi karena bisnis saya banyak di China dan rusia, yah nggak ada implikasi apa-apa, lagipula spesialisasi saya hanya di oilum gas. Kalau di Rusia efeknya nggak ada apa-apa, dia punya produksi hampir sama dengan Arab Saudi, China malah mengurangi overhead-nya 11 persen lebih, that’s good for China.
Lalu bagaimana dengan amerika?
Kalau Amerika sendiri, wakil perdana menterinya sekarang ngawur juga, masa dia nyalahin uang Arab, uang Rusia, dan uang China, uang itu kan masih dikontrol sama mereka. Harusnya Amerika Jangan menyalahkan negara lain mereka sendiri nggak becus, di abad 20 Amerika sih boleh berbangga, yang saya lihat sekarang justru China dan India lebih baik, dapat energi dari Rusia, jadi Amerika harus merubah pola pikir ekonomi dan politiknya.
